Thursday, March 05, 2009
Pada suatu senja dimana saya harus menjemput kakak saya untuk menyelesaikan segala urusan pernikahannya, sampailah saya dan ayah saya di pelataran parkir sebuah pertokoan terkemuka di Bandung. Yaah, namanya juga Indonesia.. pajangan di trotoar adalah pedagang kaki lima, sampah, pengemis dan... orang gila.
Awalnya *jujur siahh!!* saya sama sekali gak notice kalau ada orang di depan mobil saya. Ayah saya bilang "untung aja dapet parkiran ya tih!". Karena tempat yang kami kunjungi saat itu memang tempat yang ramai pengunjung, dan biasanya gak dapet parkiran kalau sudah sore.
Tapi ayah saya bilang sambil agak menunjuk ke bawah.. "tingali itu nu gelo keur nyo'o kan**t" sambil agak senyum merinding. Kalau diterjemahkan, kira-kira artinya.. "Liat itu orang gila lagi mainin itu-nya". Mungkin ayah saya gak terlalu canggung untuk bilang, karena saya sendiri sudah married, punya anak malahan. Oke kembali ke cerita, saat itu juga sontak saya menoleh ke arah ayah saya mengarahkan tangannya, ke orang gila. Terbaringlah seorang pria paruh baya, dengan baju yang lusuh, dan tangan kanannya yang tenggelam di antara kain kotor yang bisa dibilang celana kolornya. Ia tampak menikmati sekali gerakan tangan yang sedang bermain di bagian tubuh paling pribadinya itu. Saya dan ayah saya gak punya pilihan lain selain buang muka dan berharap si orang gila cepat selesai memenuhi 'kebutuhan'nya. Kami sempat tertawa kecil, bertanya-tanya.. kira-kira kapan ya selesainya. Saya sendiri dalam hati mikir "memang orang gila punya wet dream juga yah??".
Well, after several minutes.. akhirnya si orang gila mengeluarkan tangannya. Saya tidak melihat persis bagaimana ia mengakhirinya. Yang jelas saat itu saya berkesimpulan, ternyata orang gila masih harus memenuhi kebutuhan biologisnya selain makan dan minum.. ya, orang gila butuh masturbasi juga.. hahahaha!
